SEPANJANG KU MASIH MAMPU TUK BERJALAN, TETAPLAH BERPATUH PADA KEYAKINAN

Senin, 10 September 2012

SURATAN SANG PEMIMPI



Pertama ku mengenal dia, dan perlahan sejenak ku merasa kagum dengan semua yang telah dia miliki, baik buruk dia mulai ku pelajari. Tahukah apa yang ku temui saat aku bekerja di salah satu resto di kawasan pariwisata ciater? Ialah sosok yang terasa indah, lembut, santun, aku dapatkan dari seorang sahabat yang tak pernah ku temui sebelumnya! Hiruk pikuk kehidupan yang terus berorganisir menjadikan semangat yang pernah ku tanam dahulu, semakin menggebu ketika aku pun mulai dekat dengan sanak sodaranya! Alangkah senang hati dan perasaanku, Menjadikan seseorang sosok yang ku ingin di dalam hidup ini terlahir. Diseiring tenggangnya waktu, runtuhnya jaman, detik demi detik, begitupun bulan terus berputar mengelilingi apa yang harus aku kerjakan dan aku rasakan saat itu! Baik semakin baik Begitupun buruk semakin memburuk!
2010, tahun yang begitu amat saya dambakan, senang, gundah, gelisah bercampur sedihpun mengiringiku. Kebersamaan yang kian tak perrnah ku rasa sulit untuk ku lupa. Yang terasa sulit, benar – benar sulit! Setahun kemudian, Aku mulai mencoba melerai apa yang menjadi bumbu didalam arti dan indahnya kebersamaan itu, Satu hati, satu airmata tanpa komfromi, tanpa pesan damai. Hanya kurasa telepati yang kuat yang dapat menyampaikan kesan, pesan saat dimana ku menyimpan semua memori indah itu. Ringkas cerita 10 Oktober 2011, Semakin terlihat bahwa aku dan dia mungkin memang hanya jadi permasalahan yang tak pernah berujung. Aku sayang dia... Dia kakakku. Dia kakakku!
Mimpi – mimpi itu mulai aku redam, mulai aku benahi, mulai aku turuti, dan mulai aku rasakan kepedihan - kepedihannya. Bertengkarlah aku hingga Setiap saat yang menjadi topik pertemuan ialah diriku yang tak tau apa, yang di permasalahkan karnaku, Tuhan! Aku rupanya bermimpi diatas kebahagiaan yang bukan untuk ku genggam, ku terlalu memaksakan hati ini tuk menjadikannya seorang tuntunan, mengajarkanku menyembah namamu Ya Allah. Menguatkan iman dan kebenaran – kebenaran itu!  Ya Rab, Berdosa aku mendengarkan yang tak seharusnya kau dengar dari orang sekelilingnya, hingga aku melakukan yang tak lazim aku kerjakan. Berdusta aku pada hatiku yang terus berbohong aku demikian adanya!
Ya allah... Aku mulai sadar ketika beberapa bulan sebelum Ramadhan 2012 saat ini. Aku tak perlu melakukan demikian karna aku telah mendapatkan kasih sayang yang tulus darinya, banyak hal yang tak perlu aku debatkan dengan beliau yang akan menjadikan ketenangan sebenarnya! Tapi apa, entah ini cobaan, entah ini teguran dimana ku harus terus dan terus berulang Terdzolimi. Namun, Ku menyadari bahwa ku tak selamanya benar ya Allah, Entah kepada siapa ku berharap. Entah kepada siapa ku memohon! Entah perkataanku yang salah atau sikap ku yang selalu mengalah menjadikanku dihadapannya terasa lemah? Ya Allah...
2012 hanyalah Cerita, ku harus terpecah, ku harus rapuh, ku harus dan harus yang lainnya. Aku bingung. Aku menyesal! Kenapa dia yang selalu merasa dia yang paling tersakiti, Apa aku tak pernah terlintas dalam benaknya? dalam hatinya? Dalam relung jiwanya? bahkan dalam nadi yang mampu menyalurkan darahnya? Urat sendinya? Jantung dan hatinya? Ya Allah... mana! Kenapa semua ini menjadikan ku seperti ini. Aku di hina, Di caci, di rendahkan, di remehkan, ini perasaanku ya allah, yang hanya tertuang dalam setitik kertas pena mengantar kata hati kedalam sebuah tulisan, Bergeming telingaku!
Berbaur dalam kehancuran yang tak pernah aku duga sebelumnya! Ku berharap mati setelah ini, namun ku salah karna kematian bukanlah segalanya. Tapi Apa ya Allah.... Apa! Harusnya dia tau perasaan yang telah banyak aku korbankan untuknya, untuk keluarganya dan untuk pribadinya sendiri, Aku merindukan ucapan yang lembut dari sosok ibu dan ayahnya. Aku rindu itu! Aku menjerit, serasa ku tak pernah mampu ku menatap wajahku yang di hina ini, ya Allah Sabarkan aku, tabahkan aku, dan cintai aku!
Kelak ketika ku tau semuanya yang akan terjadi di kepolosan ku ini, ku kan tau semua jawaban darinya! Aku pernah bercerita begini kawan, “ Esok Ku kan Merasakan hal yang kedua kalinya dari orang yang kau sayang “.  Dan tau apa yang terjadi setelah banyak pesan yang ku terima di setiap percakapan? Yaitu masalah tentangku dan tentangku yang tak pernah berakhir, yang ku kira itu ialah mimpi yang dapat ku simpan dan berakhir selamanya. Tapi sayang, Untaian dan cacian dari orang yang ku sayang, orang yang ku anggap segalanya! Kembali hadir menghiasi hari – hari yang ku rasa indah itu,,, ku gelengkan kepala. Serasa ku bermimpi di tembak maut. Seakan ajalku datang, seakan nadiku kan terhenti, seakan airmata ini tak pernah larut. Ya allah Surga yang ku temui ialah neraka yang membuatnya luka.
Allahhu akbar, Allahhu akbar, Allahhu akbar ..... Aku menjerit! Aku berbisik pada hatiku!
“ Apa ku harus pergi dari kehidupan ini? “  benar – benar tak ada artinya.
Aku tak kuat, aku telah lemah menghadapi ganasnya sang dunia yang duduk di pinggir sana. Betapa hati ini teriris, betapa hati ini kecewa. Aku mulai terkhianati menatap pepohonan. Walau ku terasa lunglai, ku tetap bertahan mendengar bisiknya. Aku harus begini untuk yang tersayangnya, ku harus begitu untuk orang lainnya, dan ku harus menjauh akannya. Ini ya Allah jawaban yang selama ini aku dapatkan untuk menjadikan kesenangan sesungguhnya ada pada diriku kelak. Astagfirullah!
Islam yang ku kenal indah, yang mampu menentramkan hatiku, sejenak luluh karna satu sikap dimana beliau mampu mengontrol semuanya dengan mudah. Untuk yang kedua kalinya aku menggelenggkan kepala. Ya Allah! Iman yang kau beri, Islam yang terlahir, syahadat yang berkumandang seketika rapuh oleh setan yang merasuk.
Tulisan ini, airmata ini! Seolah enggan tuk terhenti sayang! Bodoh aku, harusnya aku berdiam sejenak! Tapi apa, Masalah ini tak pernah berujung. Keegoisannya, kemunafikannya, ketidak sadarannya menjauhkan segalanya akan sayang, perjuangan, pengorbanan yang telah lama terbual. Aduuuuuuuhhhhhh! Sakiiiiiiit ya Allah, ketauhidannya sirna, bagai setangkai bunga yang harus, yang tak boleh ku sentuh sedikitpun, bagai emas yang berlapis 24 karat yang takut luntur. “ Aku tak pernah sadar” Ujarnya.
“ya rahmanu ya rahim “ tak habis pikir aku mengorbankan hati dan perasaanku untuknya. “Subhanallah walhamdulillah walla ilahaillallah” Sungguh – sungguh aku menyesal. Berkawan dengan kesendirian, berkawan dengan luka, Akhirnya aku menjadi seperti debu yang tak pernah terlihat.
Yang tercintaku, yang tersayangku semuanya jadi korban. Korban malu, korban sakit hati, korban perih dan korban segalanya. Tak terpikir sebelumnya keluargaku kan merasakan semua yang telah terjadi untukku. Begitu dosa aku ibu! Begitu salah aku ayah! Maafkan aku kawan, Kepentingan itu sekejap hanyut perasaan itu menghilang dan takut. Benar – benar, Duina ini menghitamkan yang halal.

Ya Muhammad nabiku, Ya Allah Tuhanku! Taubat....... ! Taubatan Nasuha.

Indah Cinta yang ku rajut, indah kemesraan yang ku tanam, Hilang sekejap karna ku berkorban masih untuknya. Ya Allah, Dia gadis yang tidak berdosa! Dia gadis yang berbakti untukku. Ku nikmati perasaan itu darinya... Ya Rabb... Aku bertekad ingin menikah dengannya dahulu! Kini sirna, aku ingin membangun mahligai rumah tangga dengannya kini hilang entah kemana,,, ya rabb! Semoga engkau membantu dan menolong hamba yang berdosa ini, kembalikan dia yang pernah ku cinta, kembalikan segalanya yang pernah aku korbankan untuknya! Aduuuuhhhhhh! Bagaimana? Aku bodoh melihat sekejap mata,,, Aku malu mengakui aku bersalah kepada yang tercintaku. Aku menyesal Kawan....
Ini pengorbananku, ini perhatianku yang tercurah hanya untukmu, ytak pernah aku ucap perhatianku untuk sang calon istriku, adikku, ibuuku, keluargaku, ayahku bahkan hatiku kawan. Subhanallah ku ingin hentikan ini namun aku tak mampu, aku tak tau harus ku bagai mana memulai hidup ini? Silahkan kau kira airmata ini bohong, silahkan kau kira hati ini dusta. Ini keadilan dari allah untukku uraikan dalam tulisan yyang mungkin tak pernah terhenti begitu saja, karna kurasa panjang. W I N A ( Waktu Itu Nangisi Aku ) sekarang setelah lepas denganku beliau bahagia. Sekarang setelah dipaksa putus dariku beliau di cinta pria, hmmmmm ingin ku terus membalas semuanya yang pernah aku hilangkan termasuk perhatian adikku  “Sumarni“  Sungguh Aku khianat akan keluarga dan perasaanku. Aku munafik dengan mirhab cinta yang telah ku rajut untuk beribadah dan taat kepadamu ya Allah. Maafkan aku!
“Robeklah luka yang terus menerus membesar ini, hai orang – orang yang ku sayang.”
Aku telah menyiksa dan aku telah berkorban untuk dunia ini... tampar aku! Tampar ya sayang.
Kesuksesan yang kau raih hanyalah kepedihan yang ku korbankan untuk selalu menyumbang waktu, menyita waktu. Tahu tidak? Sadar tidak? Ketika engkau Pula mendidikku, mengujam jantungku, merusak rongga – rongga dalam dada ku, leherku punggungku, Aku tak pernah sedikitpun mengucap menyesal menngenalmu, dan berkorban untukmu! Tapi kenapa sekarang engkauu mengatakan itu kepadaku. Dunia sungguh terbalik, Fakta yang realita menjadikannya ke angkuhan yang benar – benar dan patut tuk di sombongkan. Aku tak pernah meminta cinta yang hilang untuk kembali, hanya ku minta mengerti. Lihat diriku ini... apa karna hartaku tak pernah mengalir untukmu, kurang apa aku ini, kurang apa kawan? Begitu mudah kau ucapkan hal yang paloing menyakitkan dalam hidupmu, Apa aku ini diam aku tak merasa sakit? Hilang dan luntur semua kebaikan ku untukmu... tak di terima iman islamku karna engkau berkata demikian... Percuma seluruh ibadah yang kita rajut, seluruh sodakoh yang kita sumbangkan. Hanya dapat mati dengan perkataan engkau sakit dan mengakui hal paling menyedihkan di kehidupan mu! Allah ya Allah Ya Allah.....
                Ini itu hidup yang ku pilih atau hidup yang terlanjur aku pilih? Hingga tak pernah terhenti cerita yang ku temui di pertemuan ku sebelumnya, di tahun – tahun sebelumnya ketika ku denggan seorang CECE SUHERLAN, NANANG, OMAN NUROHMAN, GRACE MAHARANI. Sungguh!
Tak kuasa aku menatap kelemahan hattimu kawan, tapi apa yang kau balas untukku, hanya ketakutan dunia seolah berpihak jatu akanku... Ya Allah...
                Sempat ku berpikir, Emosi aku menjawab pertanyaan setiap dia ucapkan. Tapi untuk apa? Untuk apa sahabatku, untuk apa kakakku? Engkau yang tersayang, Subhanallah Sadarlah untukku! Sadarlah untuk pengorbanan mu... dunia mengalihkan pandanganmu untukku.
                Kawan, ku rasa hidupku tak bertahan lama dengan kesepian ini, Dengan perlakuan ini, Dengan dosa ini, jengah aku mengingat semuanya! Keadilanku dimatanya terbilang sia – sia. Pengorbananku di matanya terbilang di rekayasa.
                Kesadaran, kesabaran, ketawakalan, terus coba akuu ttanamkan ketika sesaat setelah ku kabur dari rumah. Karna ku pikir beliau kan mengerti mana yang benar? Ku pikir beliau kan mengerti mana yang harus aku kejar? Ya tuhan... pekerjaan di tempat itu mulai menjenuhkan ketika ku lihat beliau yang dulu ku kenal, beliau yang dulu ramah, sopan, santun berubah menjadi demikian... Waw! Extreme!
                “Kalah Dengan satu acuan....”
               
                Kawan, Hari esok yang telah menanti setelah aku ribut dengan mereka, yang datang yang pertama kali terbesit di benak ku ialah keraguan, ketakutan, kepedihan betapa aku akan bertemu kembali dengan sosok yang ku banggakan, seakan beruhah untuk saat ini menjadi macan yang siap tuk menerkam. Aku takut, namun ku ingat dengan rekan –rekan yang terbaik yang pernah ku temui disaat ini. Di keorganisasian yang pernah aku temui. ( Walau ku terkadang trauma, apa aku kan bahagia mengenal orang lain, apa terus seperti ini seperti saat dengannya?)
                Tat kala hari yang telah kutakiti itu muncul dihadapanku saat ini datang, semakin tak karuan ku menghadapinya, semakin hatiku berdebar! “Ya Allah... Kuatkan aku dengan sikapnya, kuatkan aku tuk menatap wajahnya, kuatkan aku mendengarkan kata – katanya.“ aku berkata dalam hati. Dan apa akhir dari doa yang terjawab oleh Allah SWT? Ialah keluluhan, kebaikan, kelembutan yang dulu aku rasakan hadir kembali walau terkadang ku harus berbatas jarak, berbatas ruang. Namun ku mencari cara, ku mencari jalan untukku dapat merasakan kebaikan – kebaikannya. Aku berusaha ya Allah seperti yang selalu ku doakan kepada-Mu.
                Subhannallah, Segala pedih di satu hari ini coba ku tahan, coba ku buang, coba ku redam. Walau hati saat kemarin beliau mencaci maki dan tak membela sedikitpun terhadapku, namun ku yakin dia baik, dia peduli, aku yakin itu ya Allah... semoga Engkau pun Demikian ya Allah, membantu meyakinkan hatiku dan hatinya agar tak pernah ada perpecahan diantara aku dan dia. Amin
                Sedikit ku menoreh kesosok cewek yang ku idamkan selama ini, di keanggunannya, di keramahannya... namun sayang beliau milik orang... Wkkkkkk
                Hari demi hari terus bergulir berganti dengan masa yang tak pernah lari dari nyatanya hidup demikian dengan ikhtiar, ku berjuang untuk menjadikan dan meyakinkan diri ini mampu dengan modal kepedihan yang beliau beri untukku, tepat datang masa dimana ku menjalankan kewajibanku sebagai karyawan swasta. Hari itu hari dimana ku harus menyeleseikan tugasku, photocopy, beberapa jam ku berada di tempat photocopy aku semakin merasa yakin bahwa ku benar – benar mampu menyimpan keinginan yang dulu sempat aku cita – citakan dengannya, menghapus bayangannya walau memang sampai kapanpun sulit, karna memang menyayanginya aku hanya butuh 1 hari. Namun sebaliknya, untuk melupakanmu ialah beban yang sangat berat.
                Tepat Jam 15.30 Wib saat ku selesai mengerjakan tugas itu, hal yang aku takutkan ialah hal yang harus terjadi melihat wajah seorang yang budiman, yang baik yang lugu, yang sopan itu melewat dengan  sang istri yang tak pernah mengerti itu. Wajah yang kusut yang tak pernah lama ketika ku selalu berdebat dengannya sekarang terlihat lelah, maafkan aku kawan! Maaf aku yang tak pernah mampu menghapus keringatmu, lelahmu, letihmu, lesumu, dan apa yang ada dalam relung jiwamu. Ku tau enghaku kawan! Namun ku tak mampu dan ku tak bisa melakukan itu semua, karna jujur sebenarnya ku ingin tapi aku takut engkau kembali melarangku, engkau kembali membenciku dan engkau kembali memarahiku.
                Ya allah, jalan raya yang panjang menjadi saksiku saksi bisu yang membuat mata hati ini berbicara pada sosok orang tua yang saat itu rekan kerjaku pula. Aku terus berharap kepada-Mu ya Allah, berharap ku bisa menyentuh hatinya, berharap ku bisa mengobati lukanya! Namun ku harus mengetahui ini juga, aku harus belajar dengan keadaan ini. Wajib!
                Sejalan dengan hati yang demikian, pikirku pun semakin tak menentu hingga saat bel jam kerjaku pulang, aku merasakan getaran yang dulu pernah ia simpan untukku. Beliau gelisah, beliau tak pernah tau jalan arah kemana beliau berpijak. Aku bermimpi untukmu kawan, engkau sejenak hadir menghiasi tidurku malam harinya. Niatku berpuasa berharap kepada Allah meminta jalan agar Allah memberikan hidayah untukmu pun terganggu, terganggu dengan senyum yang kau tebar dalam mimpiku. Meyakinkan hatiku bahwa permasalahan ini reda untuk sesaat dan akan terbual kelak setelah tiba waktunya! Mungkin sampai engkau memberikan suatu pilihan untuknya, disaat engkau pun mengakhiri silaturahmi denganku yang berada dijalan kebenaran saat itu. Rekan kerjaku yang lain tak pernah diam untuk tau masalah yang ada saatku meneteskan airmata dan memohon – mohon padamu saat itu. Hina aku dimata keluargaku, karna aku kepada keluargaku pun saja aku tidak demikian adanya. Menjerit hatiku, kenapa aku harus ada di masalah ini?
                Engkau yang kusayang, engkau yang malang! Kenapa tak seorangpun yang tau, menyalahkanku? Padahal menurutku ini hina. Mereka seolah terus menerus berkata dan menyalahkanmu seolah engkau yang tidak punya ketegasan, engkau yang tidak bisa mendidiknya, seperti engkau mengajakku, membimbingku ke jalan yang engkau harapkan. Sungguh setiap orang berkata padamu, engkau telah dibutakan olehnya, dimatikan hatimu olehnya, di jauhkan hatimu olehnya. “ya Allah, semoga Engkau membukakan hati serta hidayahnya kepadanya ya Allah. Dia orang baik, dia orang yang taat kepada-Mu” doaku saat itu.
                Ku berpesan kepada setiap orang, “janganlah kalian menjadikan manusia tempat bergantung dan janganlah banyak berharap kepada manusia, karna engkau niscaya akan gelisah. Dan janganlah terlalu engkau menjadikan kasih sayang itu ada dan berlebihan melebihi kasih sayangmu kepada keluargamu, karna niscaya kebencian lebih dekat bersamamu. Sebaliknya demikian, janganlah engkau membenci orang – orang di sekitarmu, niscaya kasih sayang itu ada menghampirimu” Bukan kebohongan kawan, ini realita yang aku rasakan, ini realita yang sempat aku temukan.
                Benar – benar tak akan pernah engkau pun menyangka dengan keadaan ini, kecuali engkau pun ingin merasakan. Ku kira sayang kepada seorang kakak ialah sayang melebihi segalanya. Namun tidak demikian adanya, karena mungkin bukan kakak kandung? Terlalu berharap aku memilikinya, hingga aku mendapatkan imbasnya.
                Banyak unek – unek yang tidak terlemparkan, tidak terpuaskan karena aku tak pernah ada kesempatan untuk membela diriku, tak pernah ada pembelaan dari siapapun, sedikitpun itu aku yang rasa. Hancurlah semua, landasan ku mengenal dirinya terus tersendat hingga aku harus terus merasa benci akan diriku sendiri, hingga ku terus merasa marah kepada orang yang telah mengadukanku. Kalaulah aku tau akan ku tanyakan kepada beliau apa keinginan selanjutnya setelah aku dan dirinya begini? “harapanku, semoga karma dari Allah masih tetap ada, aggar beliau selalu sadar terhadap apa yang telah dilakukannya”  Maafkan aku, yang berharap demikian. Karena ini bukan kali pertama untukku, setelah engkau menjadikan masalah – masalah yang menerka hidup ku.
                Tanpa terasa, hari ini hampir satu minggu sudah ku menghadapi masalah – masalah yang benar – benar mengkritiskan otak serta pemikiran. Bingung aku menemukan jawaban selama pertanyaan ini terus menerus bergejolak. Kawan, ketika engkau sadar mungkin kau telah tak bersamaku lagi. Ketika itu pula engkau kan memahami arti sebuah sayang yang ku dapat dariku. Tapi ku tak berharap engkau demikian, dan biarlah hanya Allah dan realita hidup matinya seorang manusia itu adalah suratan.
                Memang ku merasakan getaran rindu yang amat dalam, yang terlebih ku mengingat semua yang pernah engkau berikan di detik pertama, kedua dan seterusnya. Jalan itu semakin terbentang dan sulit untuk aku lupakan. “andai ku dapat mengetahui jalan takdirku saat itu, mungkin ku takkan merasa seperti ini. Dilanda ketakutan, kesendirian, kegelisahan, bahkan ketidak adilan yang benar di bela yang salah” sungguh ku tak pernah mengira semuanya.
                Kerapuhan yang ku rasa ialah dilema yang ku pendam pula, disaat mentari menerusuk kedalam rusuk dan tulangku saat ini. Aku pun merasa semakin ku tak pernah mampu melihat hari esok, lusa dan seterusnya. Namun ku tidak boleh berkata demikian, karna ku kelak kan menemukan kesejahteraan dalam hidup yang penuh tantangan. Serasa ku tak pernah menyangka pula bila kelak ku tak bersamanya namun ku merasa sukses akan hinaan yang ku dapat darinya! #Amien
                Setelah lama aku tak berpetuah denganmu, kelak ku akan menjadikan semua ini kenangan yang mampu mengingatkan terhadap sosok yang terbaik yang pernah ada, Namun setelah ku merasakan kepedihan sekian lama engkau pendam, kenapa rasa sayang ini berubah menjadi benci dengan sikap yang engkau tanam saat ini, aku berusaha untuk menghancurkan mu, Agar engkau mampu merasakan apa yang aku rasakna saat ini, kesendirian, kesedihan, tidak di hargai bercampur dan tertuang dalam satu hati. Terkadang aku ingin mengadu kepada allah kenapa dengan sikapku ini? Tapi apalah dayaku ya Allah, aku hanya bisa berharap padamu dengan jalan yang mesti aku tempuh saat ini dan sekarang. Semoga dan semoga, aku dapat melupakan semuanya!

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

MAMAN SUMARNA SUPER KREATIF. Diberdayakan oleh Blogger.

DUKUNG KAMI DISINI